KELAS GEARBOK MAHASISWA BUTUH PERHATIAN


tkmracing.com (17/5)

Keberadaan kelas gearbok mahasiswa dalam percaturan gokart nasional memiliki arti tersendiri. Sejak secara resmi dilombakan dalam kejuaraan-kejuaraan gokart hingga saat ini, kelas gearbok mahasiswa memang telah memberi warna tersendiri dalam satu event kejuaraan. Dibalik berisiknya raungan knalpot gokart mereka, disitulah tercipta kemeriahan akan suasana balapan yang sesungguhnya. Pernah kalau tak salah di 2016 lalu, satu event kejuaraan gokart domestik digelar tanpa mengikutsertakan kelas bermesin motor ninja ini, hasilnya kejuaraan berjalan hambar tanpa kemeriahan.

Di musim balap 2018 ini, kelas gearbok mahasiswa tetap konsisten dalam mengikuti perkembangan balapan dalam negeri. Entah sudah berapa generasi peralihan yang terjadi dalam satu team. Yang pasti mereka datang ke SIKC dengan satu niat yakni turut membesarkan olahraga gokart di Indonesia.

Dalam kejuaraan Eshark Rok Cup putaran 3 yang baru saja digelar, kurang lebih 15 pegokart turun berlaga. Mereka datang dari beberapa universitas-universitas seantero pulau jawa. MERT Untar, Kart Team HMM Unpas, M Itenas Karting Club, Karting Kompetitif UPI, ITI Karting Team, Kreamur Untirta, Human Gokart Club dan Polykart Bandung merupakan team-team yang aktif mengirimkan pegokart gearboknya di musim balap 2018 ini.

Dede Malki (Kart Team HMM Unpas) berhasil memenangi duel para mayoritas mahasiswa fakultas mesin ini di putaran 3 Eshark Rok Cup, Gugun Wiranto (MERT Untar) di posisi ke 2, M. Iqbal Tawakal (Kart Team HMM Unpas) menempati posisi ke 3, Andi Mulyono (MERT Untar) finish diurutan 4, dan Edi Mulyanto (M Itenas Karting Club) menutup posisi 5 besar.

Yang menarik, saat akan digelar partai prefinal, tampak serombongan para pendukung dari berbagai team gearbok mahasiswa ini berkumpul di pinggir pagar grid area. Mereka menyanyikan lagu “solidarity forever” seraya mengepalkan tangan ke udara. Tentu saja aksi ini membuat bingung sebagian kalangan yang menyaksikan aksi tersebut. Selidik punya selidik ternyata para team gearbok mahasiswa ini keberatan dengan regulasi panitia perlombaan yang mengharuskan mereka menggunakan ban Bridgestone (baru/bekas) dalam pertandingan yang mulai diberlakukan sejak putaran perdana musim balap 2018 ini.

Alip, Koordinator Divisi BTM, M Itenas Karting Club

Salah satu komentar datang dari Alip, Koordinator Divisi BTM MERT Itenas Karting Club. Alip menyampaikan dengan regulasi tersebut semakin menyulitkan mahasiswa untuk bertanding di kejuaraan. Harga ban Bridgestone baru yang tak terjangkau oleh mereka juga tak bisa diakomodir dengan dana yang mereka terima dari pihak kampus.

“Kami hanya meminta agar pihak penyelenggara mempertimbangkan regulasi ban tersebut. Saat ini agak sulit bagi kami mendapatkan ban-ban bekas dri team-team besar sedangkan untuk beli yang baru sangat tidak mungkin karena kami hanya memiliki dana yang pas-pasan. Bahkan untuk makan saja kadang kami harus patungan belum lagi biaya lainnya semisal transport dan lain-lain. Di balapan kemarin Kami terpaksa melakukan scrutineering pada minggu pagi karena ban balapan baru kami dapatkan pada Sabtu jam 11 malam.” Ujar Alip.

Alip juga menambahkan, pihaknya memiliki banyak persedian ban bekas merk lain dan dengan kelonggaran regulasi masalah penggunaan ban tersebut setidaknya sudah mengurangi sedikit beban team-team gearbok mahasiswa yang akan ikut bertanding.

Senada dengan Alip, komentar juga datang dari Dede Malki pegokart Kart Team HMM Unpas yang berhasil menjadi kampiun di kelas gearbok mahasiswa pada putaran 3 ini.

Dede Malki, Kart Team HMM Unpas

“Kadang kami hanya mendapatkan suplai ban bekas yang kondisinya sudah tidak layak. Pernah di seri sebelumnya saya mengalami ban pecah karena sudah kelewat tipis sehingga saya gagal sampai ke  garis finish. Kami hanya berharap bantuan dari team-team besar untuk dapat menyisihkan ban bekasnya agar kami tetap eksis dalam berkarya, atau pihak penyelenggara meninjau kembali regulasi ban tersebut dan memberikan kami kebebasan dalam menggunakan ban dalam balapan.” Papar Dede Malki.

Dikesempatan lain, Iwan Semut Ireng yang merupakan salah satu tokoh gearbok nasional pun turut angkat bicara. Iwan yang dikenal dekat dengan kalangan mahasiswa ini sudah mencoba mencarikan jalan keluar dari permasalahan ini.

Iwan Semut Ireng, tokoh gearbok nasional

“Surat permohonan peninjauan kembali regulasi ban tersebut sudah saya kirimkan ke pihak penyelenggara. Saya hanya berharap ada kebijaksanaan dari pihak penyelenggara atas permasalahan ini. Nyatanya di lapangan memang para mahasiswa mengalami kesulitan. Jangankan untuk beli ban baru, melihat mereka makan saja saya tidak sampai hati. Dapat ban tipis untuk balapan akhirnya pecah ditengah jalan. Minta 10 juta ke kampus turunnya hanya 4 juta. Padahal dengan adanya mereka,  sirkuit jadi rame saat balapan, mereka mampu menciptakan atsmosfir balapan yang beda.” Jelas Iwan Semut Ireng.

Ibarat buah simalakama, bagaimanapun regulasi dibuat agar kejuaraan dapat terlaksana dengan kualitas yang baik. Namun regulasi juga sebaiknya mempertimbangkan kemampuan dari para peserta perlombaan. Semoga saja ada keputusan yang dapat memuaskan semua pihak. Agar penyelenggara dapat mempertahankan kualitasnya, dan para peserta dapat mempertahankan eksistensinya.

Bravo Eshark Rok Cup, Bravo Gearbok Mahasiswa, Bravo Gokart Indonesia

Reyhan Ilyas

 

 

Kategori:News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: